Personal

Tentang sekolah, belajar dan dunia yang berubah

October 9, 2017

Saya tidak pernah suka sekolah. Tidak benci juga. Mungkin lebih tepatnya, sekolah hanya jadi rutinitas penuntas kewajiban terhadap orangtua saja. Masuk ke sebuah institusi pendidikan merupakan satu dari sekian banyak fase hidup yang harus dijalani tanpa pilihan, baik untuk saya maupun orangtua. Faktor utamanya jelas karena kewajiban, tapi sekaligus juga menjadi sebuah norma.

Tujuan utama sekolah jelas pendidikan. Namun yang saya dapat selama menjalani pendidikan dasar selama 12 tahun? Prosentasenya mungkin 10% pengetahuan, 90% skill bersosialisasi. Apakah saya tidak berprestasi? Tanpa bermaksud membanggakan diri sendiri (yah mungkin sedikit :p), boleh dibilang setiap awal tahun ajaran orangtua saya tidak pernah pusing menyiapkan perbekalan peralatan sekolah karena sudah tersedia sebagai hadiah juara kelas di sekolah madrasah.

Namun prestasi akademis tidak pernah berkorelasi dengan pengetahuan yang saya serap di sekolah. Prestasi diukur hanya dengan kemampuan mengerjakan tes yang bisa dicapai dengan mengulang materi pelajaran sampai hapal di luar kepala. Ulangi proses tersebut selama 12 tahun dan iringi dengan kelakuan baik, kita pun masuk ke kategori pelajar berprestasi.


Sistem pendidikan kita memang mengacu pada model pendidikan Prusia yang kuno di mana sekolah merupakan pabrik yang bertugas mencetak pekerja. Murid dikelompokkan berdasarkan usia, lalu dibekali materi dasar seperti berhitung, membaca, menulis termasuk di dalamnya soal etika seperti kepatuhan, cinta negara dan ketaatan beragama. Selanjutnya murid-murid diberikan waktu untuk mempelajari itu semua tanpa perduli irama belajar setiap anak yang berbeda-beda. Kalau tidak bisa mengikuti irama belajar murid lainnya, ya konsekwensinya tinggal kelas alias tidak naik. Sekali lagi, itu wajar karena model pendidikan tersebut hanya bertujuan mencetak “produk” yang dibutuhkan industri. Pertanyaannya, haruskah model tersebut dipertahankan dengan bergesernya era indutrialisasi ke era informasi?

Berbeda dengan era industri yang digerakkan oleh kelas pekerja dengan kepatuhan melakukan tugas berulang-ulang, di era informasi tidak lama lagi tugas tersebut akan digantikan dengan proses otomatisasi. Kita yang bekerja bagai mesin, akan tergantikan dengan mesin yang sebenarnya. Dan mereka adalah pekerja yang jauh lebih baik, lebih patuh, lebih disiplin, lebih produktif daripada kita.

Salah satu alasan saya dan istri memilih homeschooling atau pendidikan berbasis keluarga untuk anak-anak kami adalah kami ingin memutuskan mata rantai sistem pendidikan di atas pada keluarga kami. Namun hal lain yang juga mendasari keputusan kami adalah kesadaran bahwa dunia sedang berubah. Termasuk di dalamnya cara belajar pun ikut berubah.

Sekitar 6 tahun lalu, tidak lama setelah anak pertama kami lahir entah kenapa saya seperti menemukan semangat baru untuk belajar. Bukan hanya tentang menjadi orangtua layaknya mereka yang baru saja dikaruniai seorang anak, tapi lebih dari itu. Rasanya seperti disuntikkan rasa ingin tahu dengan dosis yang cukup tinggi.

Saya ingat, berawal dari memilih jenis reksadana untuk rencana keuangan keluarga kami, tiba-tiba beberapa bulan kemudian saya yang tidak punya background pendidikan keuangan, perbankan dan investasi, ditunjuk menjadi nara sumber di kantor untuk sharing seputar reksadana dan melakukan trading saham sebagai aktivitas sambilan. Semuanya berawal dari rasa ingin tahu saya dan pertanyaan: “Oke, ini reksadana. Uang kita dikelola oleh manajer investasi. Tapi, apa yang dilakukan oleh manajer investasi ini? Trading saham? Gimana cara kerja trading saham?” Tidak lama setelah itu, saya pun sudah corat-coret candlestick chart sendiri 🙂

Beda lagi ceritanya, tentang menjadi content creator di youtube bertema PC, Gaming dan teknologi yang merupakan pekerjaan saya selama hampir 3 tahun belakangan ini. Berawal dari saya yang ingin punya PC gaming, setelah merakit di toko komputer ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Kasarnya “ditipu” lah. Budget yang saya keluarkan tidak sesuai dengan spesifikasi yang saya dapat. Lagi-lagi rasa ingin tahu saya kali ini menuntun saya mencari informasi bagaimana membangun sebuah PC sendiri. Singkat cerita, setelah saya berhasil membangun PC sendiri, dilanjutkan dengan keinginan saya untuk menyampaikan informasi ke orang di luar sana bahwa “hei, merakit PC sendiri itu gampang lho. Nih gw tunjukkin caranya” youtube pun menjadi satu-satunya media yang saya tahu untuk menyampaikan ide tersebut. Masalah pun datang lagi secara saya tidak pernah tahu bagaimana proses mengupload sebuah konten di youtube, sehingga saya harus belajar bagaimana cara mengedit video, mengoperasikan kamera, sampai tampil di depan kamera. Sesuatu yang dulu tidak pernah terpikirkan untuk dilakukan, dan sekarang menjadi pekerjaan saya sehari-hari.

Pada contoh di atas terlihat bahwa cara belajar saya sangat tidak runut dan tidak fokus. Di satu waktu saya bisa belajar tentang suatu hal, berhenti, lalu belajar hal lain dan kembali lagi ke hal yang pertama. Saya ingat salah satu kutipan dari salah satu fisikawan terkenal favorit saya, Richard Feynman “Study hard what interests you most, in the most undisciplined, irreverent and original manner possible” sungguh nikmat belajar berdasarkan interest yang di-triggered oleh penasaran dan keingintahuan yang tinggi.

Dan tidak ada saat yang lebih tepat untuk belajar selain sekarang. Semua yang terjadi dan ditampilkan di sosial media bisa menjadi pencetus keingintahuan dan bahan bakar untuk belajar. Saluran belajar pun semakin banyak khususnya di media online. Sekarang semua informasi bisa dicari di google. Tidak suka membaca dan lebih memilih video? Cari di youtube. Atau mungkin tipe belajar anda termasuk yang harus fokus, terstruktur dan terencana? Online course sudah tersedia banyak di internet, baik yang berbayar atau gratis. MOOC atau Massive Open Online Course merupakan cara baru untuk belajar, mulai dari Coursera, edX, Khan Academy, Udemy, Lynda.com. Banyak! Sekali lagi, sekarang adalah saat yang tepat untuk belajar. Tugas kita hanya menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar agar tools-tools tadi bisa kita manfaatkan.

Saya ingin anak-anak saya mencintai apa pun yang mereka lakukan, dan di saat yang sama, belajar tentang apa pun hal yang mereka cintai tersebut. Saya ingin memutuskan mata rantai sebuah mindset bahwa “belajar adalah kewajiban” Tidak. Belajar adalah cara kita mencintai sesuatu.

Cintai. Pelajari.

Only registered users can comment.

  1. Luar biasa artikel na mas,
    salam kenal, saya sudah nonton beberapa video youtube na mas tira,
    saya kira awalnya mas tira lebih ke praktisi buid pc aja, ternyata setelah baca artikel ini mas tira punya idealisme yang tinggi juga.

    Keep untuk berkarya mas, di tunggu artikel inpspiratif kayak gini lagi.

  2. Iyes, setuju banget.
    Anak-anak homeschoolers biasanya ketularan self-directed learning dari emak atau bapak.
    Enaknya lagi, saat anak belajar ortu juga belajar.

    Salam kenal ya, mas.
    Dari kami keluarga unschoolers di Priok.

  3. Artikelnya bagus mas, saya sendiri masih SMA tapi sepemikiran sama mas, jadi pengen deh saya kirim artikel ini ke orang tua saya 🙂

  4. Makasih bang artikelnya, bagus.
    Bener bang pendidikan yg selama ini ada cuma jadi pabrik pembuat pekerja dan saya setuju sama bang tira.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *